Tampilkan postingan dengan label buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label buku. Tampilkan semua postingan

Hal-hal yang Hendaknya Difikirkan

{ Posted on Kamis, Januari 13, 2011 by Ardiansyah }
Bagaimana Seorang Muslim Berfikir? (5 dari 7)


Bagaimana Seoarng Muslim Berfikir
Sejak awal, kami telah menekankan pentingnya berfikir, manfaat-manfaatnya bagi manusia dan sarana yang membedakan manusia dari makhluk lain. Kami telah menyebutkan pula sebab-sebab yang menghalangi manusia dari berfikir. Semua ini mempunyai tujuan utama mendorong manusia untuk berfikir dan membantu mereka mengetahui tujuan penciptaan dirinya; serta agar manusia mengagungkan ilmu dan kekuasaan Allah yang tak terbatas.

Di halaman-halaman berikutnya, kami akan mencoba menjelaskan bagaimana orang yang beriman kepada Allah berfikir tentang segala sesuatu yang dijumpainya sepanjang hari dan mendapatkan pelajaran dari peristiwa-peristiwa yang ia saksikan; bagaimana ia seharusnya bersyukur dan menjadi semakin dekat kepada Allah setelah menyaksikan keindahan dan ilmu Allah di segala sesuatu.

Sudah pasti apa yang disebutkan di sini hanya mencakup sebagian kecil dari kapasitas berfikir seorang manusia. Manusia memiliki kemampuan untuk setiap saat (dan bukan setiap jam, menit atau detik, tapi satuan waktu yang lebih kecil dari itu, yakni setiap saat) dalam hidupnya. Ruang lingkup berfikir manusia sedemikian luasnya sehingga tidak mungkin untuk dibatasi. Oleh karena itu, uraian di bawah ini bertujuan untuk sekedar membukakan pintu bagi mereka yang belum menggunakan sarana berfikir mereka sebagaimana mestinya.

Perlu diingat bahwa hanya mereka yang berfikir secara mendalam lah yang mampu memahami dan berada pada posisi lebih baik dibandingkan makhluk lain. Mereka yang tidak dapat melihat keajaiban dari peristiwa-peristiwa di sekitarnya dan tidak dapat memanfaatkan akal mereka untuk befikir adalah sebagaimana diceritakan dalam firman Allah berikut:

وَمَثَلُ الَّذِينَ كَفَرُواْ كَمَثَلِ الَّذِي يَنْعِقُ بِمَا لاَ يَسْمَعُ إِلاَّ دُعَآءً وَنِدَآءً صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لاَ يَعْقِلُونَ ﴿١٧١﴾ سورة البقرة
"Dan perumpamaan (orang-orang yang menyeru) orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja. Mereka tuli, bisu dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti." (Al-Baqarah, 2: 171)

... لَهُمْ قُلُوبٌ لاَّ يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لاَّ يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ ءَاذَانٌ لاَّ يَسْمَعُونَ بِهَا أُوْلَـئِكَ كَا ْلأَنْعَمِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُوْلَـئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ ﴿١٧٩﴾ سورة الأعراف
"… Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai." (Al-A’raaf, 7: 179)

أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ إِنْ هُمْ إِلاَّ كَا ْلأَنْعَمِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلاً  ﴿٤٤﴾ سورة الفرقان
"Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu)." (Al-Furqaan, 25: 44)

Hanya mereka yang mau berfikir yang mampu melihat dan kemudian memahami tanda-tanda kebesaran Allah, serta keajaiban dari obyek dan peristiwa-peristiwa yang Allah ciptakan. Mereka mampu mengambil sebuah kesimpulan berharga dari setiap hal, besar ataupun kecil, yang mereka saksikan di sekeliling mereka.

Kesimpulan:

{ Posted on Rabu, Januari 12, 2011 by Ardiansyah }
Bagaimana Seorang Muslim Berfikir? (4.7 dari 7)


Bagaimana Seorang Muslim Berfikir
Wajib atas manusia untuk menghilangkan segala penyebab yang menghalangi mereka dari berfikir.

Sebagaimana telah dikatakan sebelumnya, fakta bahwa kebanyakan manusia tidak berfikir dan hidup dalam keadaan lalai dari kebenaran tidak menjadi alasan bagi seseorang untuk tidak berfikir. Setiap manusia mempunyai kebebasan terhadap dirinya sendiri, dan ia akan bertanggung jawab atas dirinya sendiri di hadapan Allah. Mesti senantiasa diingat bahwa Allah menguji manusia dalam hidupnya di dunia. Sikap orang-orang selain dirinya yang sering kali acuh, tidak mau berfikir, bernalar ataupun memahami kebenaran adalah bagian dari ujian untuknya. Seseorang yang berfikir dengan ikhlas tidak akan berkata, "Kebanyakan manusia tidak berfikir, dan tidak menyadari akan hal ini, lalu mengapa saya sendirian yang mesti berfikir?" Tetapi, ia akan menerima dan menjalani ujian tersebut dengan memikirkan tentang kelalaian orang-orang terebut, dan memohon perlindungan Allah agar tidak menjadikannya termasuk dalam golongan mereka. Sudah jelas bahwa keadaan mereka bukanlah alasan baginya untuk tidak berfikir. Dalam Al-Qur'an, Allah memberitakan di banyak ayat bahwa kebanyakan manusia berada dalam kelalaian dan tidak beriman:

وَمَآ أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ ﴿١٠٣﴾ سورة يوسف
"Dan sebahagian besar manusia tidak akan beriman - walaupun kamu sangat menginginkannya." (Yuusuf, 12: 103)

المر تِلْكَءَايَاتُ الْكِتَابِ وَالَّذِيَ أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ الْحَقُّ وَلَـكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يُؤْمِنُونَ ﴿١﴾ سورة الرعد
"Alif laam miim raa. Ini adalah ayat-ayat Al Kitab (Al Qur’an). Dan Kitab yang diturunkan kepadamu daripada Tuhanmu itu adalah benar: akan tetapi kebanyakan manusia tidak beriman (kepadanya)." (Ar-Ra’d, 13: 1)

وَأَقْسَمُواْ بِاللَّهِ جَهْدَ أَيْمَانِهِمْ لاَ يَبْعَثُ اللَّهُ مَن يَمُوتُ بَلَى وَعْداً عَلَيْهِ حَقًّا وَلَـكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُونَ ﴿٣٨﴾ سورة النحل
"Mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sumpahnya yang sungguh-sungguh: "Allah tidak akan akan membangkitkan orang yang mati". (Tidak demikian), bahkan (pasti Allah akan membangkitnya), sebagai suatu janji yang benar dari Allah, akan tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui," (An-Nahl, 16: 38)


وَلَقَدْ صَرَّفْنَهُ بَيْنَهُمْ لِيَذَّكَّرُوا فَأَبَى أَكْثَرُ النَّاسِ إِلاَّ كُفُورًا ﴿٥٠﴾ سورة الفرقان
"Dan sesungguhnya Kami telah mempergilirkan hujan itu diantara manusia supaya mereka mengambil pelajaran (dari padanya); maka kebanyakan manusia itu tidak mau kecuali mengingkari (ni'mat)." (Al-Furqaan, 25: 50)

Di lain ayat, Allah menceritakan kesudahan dari mereka yang tersesat akibat mengikuti kebanyakan manusia; dan tidak mematuhi perintah Allah akibat melalaikan tujuan penciptaan mereka:


وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَآ أَخْرِجْنَآ نَعْمَلْ صَالِحًا غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُم مَّا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَن تَذَكَّرَ وَجَآءَكُمُ النَّذِيرُ فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِن نَّصِيرٍ ﴿٣٧﴾ سورة فاطر
"Dan mereka berteriak di dalam neraka itu: "Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan". Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? maka rasakanlah (adzab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang dzalim seorang penolongpun." (Faathir, 35:37)

Berdasarkan dalil di atas, setiap manusia hendaknya membuang segala sesuatu yang mencegah mereka dari berfikir untuk kemudian secara ikhlas dan jujur memikirkan dengan seksama setiap ciptaan ataupun kejadian yang Allah ciptakan, serta mengambil pelajaran dan peringatan dari apa yang ia fikirkan.

Dalam bab berikutnya, kami akan menguraikan tentang berbagai hal yang dapat difikirkan dan direnungkan oleh manusia, yakni beberapa peristiwa dan ciptaan Allah yang dapat ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan kami adalah untuk memberikan petunjuk tentang masalah ini kepada para pembaca agar mereka mampu menjalani sisa hidupnya sebagai manusia yang "berfikir dan mengambil peringatan dari apa yang mereka fikirkan".